OLEH: MAS’UD, S.H., C.M.L.C (Wakil Ketua Bidang Multi media dan siber PWI Sultra)
Dalam dunia yang kerap terpaku pada deretan gelar akademik dan indeks prestasi, kita sering kali lupa akan satu variabel paling determinan dalam keberhasilan seseorang.
Seperti yang ditegaskan oleh wartawan senior Mas’ud, S.H., C.M.L.C., “Sejarah mencatat bahwa pencapaian seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi tingkat pendidikannya atau seberapa cerdas ia, melainkan oleh kegigihannya dalam menghadapi cobaan dan bangkit dari keterpurukan.”
Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk meremehkan pentingnya pendidikan formal. Ilmu pengetahuan tetaplah pelita.
Namun, realitas hidup sering kali menunjukkan, kecerdasan intelektual tanpa didampingi ketahanan mental hanyalah potensi yang tertidur.
Banyak orang yang memiliki gelar mentereng justru terjebak dalam rasa aman palsu, hingga akhirnya goyah saat badai kehidupan, kegagalan, penolakan, atau krisis menghantam.
Sejarah besar manusia tidak ditulis oleh mereka yang menempuh jalan mulus tanpa hambatan. Sejarah justru diukir oleh mereka yang pernah “jatuh bangun”.
Penemu lampu pijar warga Amerika Serikat, Thomas Edison tidak menciptakan bola lampu dalam sekali coba.
Thomas melewati ribuan kegagalan sebelum menemukan formula yang tepat. Kegigihannya menjadi mesin penggerak yang jauh lebih kuat daripada sekadar teori di atas kertas.
Keterpurukan sering kali dianggap sebagai akhir dari perjalanan. Padahal, bagi individu yang memiliki mentalitas tangguh, keterpurukan hanyalah laboratorium hidup.
Di sanalah karakter ditempa, empati diasah, dan strategi baru ditemukan.
Pendidikan memberikan kerangka kerja, namun kegigihan memberikan keberanian untuk menjalankan kerangka kerja tersebut meski dalam situasi yang paling tidak ideal sekalipun.
Di era Artificial intelligence (AI) yang menuntut kecepatan dan efisiensi ini, kita sering terjebak dalam mentalitas instan.
Kita terobsesi pada hasil akhir dan lupa untuk mencintai proses, terutama bagian yang menyakitkan.
Jika kita ingin melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan, maka sistem pendidikan dan pola asuh kita harus bergeser:
Hargai proses, tidak hanya memberi nilai pada hasil akhir, tetapi juga pada upaya bangkit setelah gagal. Lalu normalisasi kegagalan dengan mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah noda hitam, melainkan bagian dari kurikulum kehidupan yang sangat berharga.
Kemudian ketahanan karakter dengan memprioritaskan pembentukan integritas dan kegigihan di atas sekadar perolehan nilai akademik.
Pada akhirnya, tingkat pendidikan yang tinggi memang bisa membuka pintu kesempatan. Namun, kegigihanlah yang menentukan seberapa jauh kita akan berjalan setelah pintu itu terbuka.
Kecerdasan mungkin menarik perhatian, tetapi kegigihanlah yang memenangkan pertarungan. Seperti kata Mas’ud, biarkan sejarah mencatat, kita bukan karena apa yang kita miliki di atas kertas, melainkan karena seberapa sering kita mampu berdiri kembali setelah dunia mencoba menjatuhkan kita.
Inilah esensi sejati dari keberhasilan yang melampaui batas-batas formalitas





