MUNA, CORONGSULTRA.COM – Sebagai daerah penghasil tambang, Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Pertambangan Raha, Kabupaten Muna dinilai memiliki potensi besar mencetak lulusan yang memiliki keahlian khusus di sektor pertambangan.
Ketua Yayasan Islam Zikrullah Almaidah, SMKS Pertambangan Raha, Sumiati Maida mengatakan, sekolah yang didirikannya sejak 2023 itu berfokus pada keahlian pertambangan, namun tetap mengajarkan mata pelajaran umum.
“Awalnya saya bangun sekolah ini karena Sulawesi Tenggara merupakan daerah penghasil tambang. Di sini, anak-anak mendapatkan ilmu tentang pertambangan sehingga mereka bisa dengan mudah masuk ke dunia kerja karena memiliki skill, khususnya di bidang pertambangan,” ujarnya kepada media ini, Sabtu (13/6/2026).
Sumiati menjelaskan, sekolah menyediakan asrama bagi siswa agar dapat fokus belajar. Pihak sekolah juga bersepakat dengan orang tua siswa untuk menguruskan beasiswa PPIP.
Sebagai biaya operasional asrama berupa listrik dan air, siswa dibebankan iuran Rp50 ribu per bulan. Iuran tersebut tidak ditarik langsung oleh sekolah, melainkan dikumpulkan oleh siswa sendiri kemudian disetorkan ke sekolah.
“Ada isu yang berkembang katanya kami menarik uang ke siswa. Padahal itu sudah kami sepakati dengan orang tua murid. Mereka nantinya akan tinggal di asrama dan uang Rp50 ribu itu akan digunakan sebagai biaya listrik dan air,” tegasnya.
Terkait sejumlah guru yang dikeluarkan, Sumiati menyebut sebelumnya pihaknya telah bertemu dengan Cabang Dinas (KCD) Pendidikan dan Kebudayaan Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, Ada 5 orang guru umum yang keluar, terdiri dari 2 guru Agama, 1 guru Bahasa Indonesia,1 Guru PJOK ,dan 1 tenaga administrasi.
“Kebutuhan guru di SMKS Pertambangan saat ini boleh dikatakan sudah cukup. Kami bergerak menyelesaikan masalah internal agar anak didik mendapatkan layanan pendidikan berkualitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, jam belajar siswa dimulai pukul 07.00 WITA hingga 14.00 WITA, sama seperti sekolah menengah lainnya.
Sementara itu, Kepala SMKS Pertambangan Raha, Wa Ode Nuraena mengungkapkan, sekolah terus berbenah dan mengutamakan kualitas pendidikan. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktek langsung ke lapangan.
“Sudah tiga angkatan mereka praktek langsung ke perusahaan tambang. Kami bawa ke tambang di Torobulu, Kabupaten Konawe Selatan, Batu Gamping di Buton Tengah, dan Aspal di Buton. Tahun ini kami berencana membawa mereka ke perusahaan tambang lainnya, mungkin di Sultra atau luar Sultra,” ungkapnya.
Laporan: Naja





