KENDARI, CORONGSULTRA.COM — Menghadapi dinamika kenakalan remaja di lingkungan sekolah tentu membutuhkan pendekatan khusus yang sarat akan kesabaran. Di tengah berbagai tantangan tersebut, SMKN 1 Kendari hadir dengan terobosan unik sekaligus humanis dalam menangani para siswa yang kerap menunjukkan perilaku negatif.
Bagi civitas akademika SMKN 1 Kendari, tindakan menyimpang yang dilakukan oleh pelajar bukanlah sebuah “kenakalan permanen”. Alih-alih menghakimi, pihak sekolah memandangnya sebagai bagian alami dari fase pencarian jati diri remaja.
Ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/8/2026), Pelaksana tugas (Plt) Kepala SMKN 1 Kendari, Rony, didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Junisba, serta Guru Bimbingan Konseling (BK), Mesrianti, memaparkan filosofi pembinaan di sekolah tersebut.
Melalui pendekatan humanis yang mengedepankan dialog, persahabatan, hingga kolaborasi erat dengan orang tua, SMKN 1 Kendari konsisten membimbing siswa agar bisa melangkah ke arah yang lebih positif dan produktif.
“Mereka itu sebenarnya bukan anak nakal, tapi anak yang sedang menjajaki dirinya untuk mengenali siapa diri mereka, bagaimana mereka bisa tahu apa yang belum mereka tahu. Hanya saja, cara mereka untuk mengetahui itu kadang menyimpang sedikit,” ungkap Rony.
Menghindari Stigma dan Sudut Pandang Negatif
Guru BK SMKN 1 Kendari, Mesrianti, menegaskan bahwa langkah krusial pertama dalam meredam perilaku negatif adalah dengan membuang jauh-jauh label “anak nakal”. Menurutnya, menyematkan cap negatif dan terus menyudutkan seorang anak justru membuat mereka merasa terasing dan semakin menjauh dari lingkungan yang positif.
Dalam praktiknya, tim BK menerapkan pendekatan emosional dengan memosisikan diri sebagai teman sekaligus sahabat bagi siswa. Prinsip utamanya adalah penerimaan tanpa syarat. Ketika siswa berbuat salah, sekolah tidak langsung menghakimi, melainkan merangkul mereka agar tidak merasa terpojok.
“Kapan kita mengatakan mereka nakal, di situlah mereka akan merasa terpojok dan berpikir, ‘Guru saja sudah tidak pahami saya, tidak mengenali saya, tidak menerima saya karena perilaku saya.’ Makanya kita harus tarik dan ajak bersahabat,” tutur Mesrianti.
Melibatkan dalam Kegiatan Positif dan Perketat Pengawasan
Sebagai langkah preventif yang konstruktif, pihak SMKN 1 Kendari aktif melibatkan para siswa tersebut ke dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Tujuannya jelas: menyalurkan energi dan potensi mereka ke dalam wadah yang positif dan membangun.
Kendati mengedepankan kehangatan, pengawasan ketat tetap berjalan secara sinergis. Pihak sekolah menyadari sepenuhnya bahwa pembinaan tidak akan berjalan optimal tanpa kolaborasi yang erat antara pengawasan guru di sekolah dan peran aktif orang tua di rumah.
Menanggapi isu seperti keterlibatan dalam tawuran, SMKN 1 Kendari menerapkan aturan yang sangat terukur dan berkeadilan. Sekolah tidak serta-merta menjatuhkan sanksi drop out (keluar) hanya karena seorang siswa terlibat dalam satu insiden tawuran.
Mesrianti mengatakan, sanksi pemecatan atau pengembalian siswa kepada orang tua berpijak pada mekanisme akumulasi poin pelanggaran sesuai tata tertib sekolah yang berlaku.
“Jika poin pelanggaran siswa telah mencapai batas maksimal, sekolah akan menempuh langkah mediasi bersama orang tua,” ujarnya.
Dalam mediasi tersebut kata Mesrianti, sekolah menawarkan dua opsi solutif, yakni dipindahkan ke sekolah lain atau dirumahkan sementara agar siswa yang bersangkutan dapat melakukan introspeksi diri di bawah bimbingan penuh keluarga.
Menariknya, demi menjaga masa depan dan hak pendidikan anak, pihak sekolah memastikan bahwa catatan kepindahan siswa tidak akan dicoreng dengan alasan terlibat tawuran. Langkah bijak ini membuktikan komitmen SMKN 1 Kendari untuk tidak sekadar menghukum, melainkan benar-benar menyelamatkan masa depan anak didiknya.
TIM REDAKSI







