KENDARI, CORONGSULTRA.COM — Minimnya kelengkapan fasilitas alat medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas menuai sorotan tajam dari Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Hj. Hasmawati. Akibat keterbatasan tersebut, pasien terpaksa harus dirujuk ke luar daerah seperti Makassar atau Jakarta.
Kondisi memprihatinkan ini dirasakannya secara langsung ketika ada anggota keluarganya yang menderita sakit usus sempat menjalani perawatan di RSUD Bahteramas, namun akhirnya tetap harus diberangkatkan ke Makassar untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Padahal, kata legislator Partai Gerindra itu, RSUD Bahteramas sebenarnya memiliki tenaga ahli yang mumpuni. Salah satunya adalah dr. Cahaya, seorang dokter spesialis gastro (pencernaan) yang perjalanan pendidikannya turut dibiayai oleh daerah. Sayangnya, keahlian dokter tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan alat medis pendukung yang memadai, seperti alat endoskopi.
Terkait persoalan ini, ia mempertanyakan mengapa pengadaan alat tersebut belum juga direalisasikan, mengingat besarnya manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kalau pertimbangan masalah alatnya tidak ada, kenapa tidak diadakan, Pak? Karena informasi saya dengar, setelah saya cerita-cerita dengan dokter ini, bahwa kalau kita beli alatnya itu mahal, sekitar 3 sampai 4 miliar,” ujar Hasmawati ketika memimpin rapat pembahasan rancangan KUA-PPAS Perubahan Tahun Anggaran 2026 bersama Wakil Ketua II DPRD Sultra, H. Herry Asiku, Minggu (30/8/2026).
Melalui forum resmi tersebut, Hasmawati meminta Sekretaris Daerah bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan jajaran Direksi RSUD Bahteramas untuk memprioritaskan pengadaan alat kesehatan di RSUD Bahteramas. Langkah ini dinilai krusial agar rumah sakit kebanggaan Sultra itu dapat memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal tanpa harus merepotkan pasien dengan rujukan ke luar daerah.
Ia mengungkapkan bahwa dampak utama dari tiadanya alat medis yang memadai adalah beban berat bagi pasien dan keluarga, yang terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya tiket pesawat serta kebutuhan hidup selama menjalani pengobatan di luar Sultra.
“Akhirnya, keluarga ini harus ke Jakarta lagi, biaya pesawat berapa, tapi kalau alat itu ada di rumah sakit Bahteramas, kita tidak perlu lagi kita rujuk ke luar daerah,” tambahnya.
Selain meringankan beban finansial pasien, optimalisasi layanan RSUD Bahteramas melalui kelengkapan fasilitas medis ini juga diyakini mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor kesehatan.
Menanggapi sorotan tersebut, Direktur RSUD Bahteramas, dr. H. Sukirman, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Wakil Ketua DPRD Sultra, Hasmawati, yang mendorong pengadaan alat endoskopi.
Sukirman mengungkapkan bahwa terdapat anggaran sebesar Rp11 miliar yang sempat ditahan (hold) pada APBD Induk Tahun Anggaran 2026. Dana tersebut, kata dia, dapat dialokasikan kembali pada APBD Perubahan tahun ini guna membiayai pembelian alat medis baru sekaligus mengganti berbagai peralatan medis yang sudah usang.
“Anggaran masih ada, jika kami diberikan menggunakannya maka kami bisa adakan alat medis baru mengganti yang sudah usang,” ungkapnya.
TIM REDAKSI





