TIRAWUTA, CORONGSULTRA.COM — Langkah strategis dalam memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) resmi bergulir. Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Koltim, H. Yosep Sahaka dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kolaka Timur periode 2026–2031.
Pelantikan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HKTI Sulawesi Tenggara yang digelar di Aula Serbaguna Kantor Gubernur Sultra, Kamis pekan lalu (10/9/2026).
Dalam prosesi itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, Abdul Kadir Karding, mengukuhkan secara resmi 17 Ketua DPC HKTI kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara.
Jalannya pelantikan pengurus DPC HKTI Koltim turut disaksikan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka Timur, Rismanto Runda. Selain Yosep Sahaka sebagai nakhoda utama, formasi kepengurusan DPC HKTI Koltim turut diperkuat oleh H. Syahril Sahaka selaku Sekretaris dan Eka Saputra sebagai Bendahara.
Pada agenda Musda yang sama, Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, juga ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI Sultra periode 2026–2031.
Amanah baru yang diemban Plt. Bupati Koltim ini dinilai sebagai momentum strategis untuk merajut sinergi yang lebih kokoh antara pemerintah daerah dan para pelaku tani. Mengingat sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian daerah, Koltim secara konsisten mengarahkan pembangunannya berbasis agroindustri dan agropolitan.
Kehadiran HKTI diharapkan mampu bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendampingi dan menjawab langsung persoalan di lapangan.
Yosep Sahaka menegaskan bahwa HKTI harus mampu menjadi rumah yang nyaman sekaligus solutif bagi seluruh petani Koltim. Organisasi ini tidak boleh sekadar kuat secara kelembagaan di atas kertas, tetapi harus nyata dalam menghadirkan solusi konkret atas pelbagai tantangan yang dihadapi petani sehari-hari.
Penguatan tersebut mencakup perluasan akses petani terhadap pembiayaan yang mudah, penerapan teknologi pertanian modern, ketersediaan sarana produksi yang memadai, penguatan kelembagaan kelompok tani, hingga penciptaan akses pasar yang lebih luas.
Ptani harus didorong naik kelas agar tidak sekadar sukses memproduksi hasil panen, melainkan mampu menikmati nilai tambah ekonomi yang signifikan demi mendongkrak kesejahteraan keluarga.
Visi tersebut selaras dengan arah pembangunan Koltim yang menempatkan sektor agraris sebagai kekuatan utama.
Kolaborasi apik antara pemerintah, HKTI, penyuluh pertanian, kelompok tani, pelaku usaha, serta para pemangku kepentingan diyakini mampu merajut ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan di Bumi Wonua Sorume.
Sekjen DPN HKTI Abdul Kadir Karding mengatakan bahwa pelantikan dan pengukuhan DPC HKTI se-Sultra adalah harapan dan semangat baru bagi HKTI untuk semakin memperkuat perannya dalam memperjuangkan kesejahteraan petani.
Ia berharap HKTI di Sultra tidak hanya berorientasi pada penguatan organisasi, tetapi juga menjadi instrumen strategis bagi petani dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran, melalui penguatan kelembagaan ekonomi petani, kaderisasi dan regenerasi petani, serta perluasan akses pasar.
“Kita berharap HKTI menjadi instrumen strategis, alat strategis bagi petani untuk mencapai kesejahteraannya dan kemakmurannya,” ucapnya.
Karding menilai wilayah Sultra memiliki potensi pertanian yang besar dapat memberikan nilai tambah bagi petani apabila didukung pemerintah daerah dan diperkuat melalui sinergi dengan HKTI.
Olehnya itu, ia mendorong HKTI melakukan transformasi pertanian melalui penguatan organisasi petani, kaderisasi dan regenerasi, pembangunan kelembagaan ekonomi petani, serta perluasan akses pasar hingga pasar ekspor.
“HKTI harus menjadi organisasi solusi bagi petani. Kita ingin petani semakin kuat, mandiri, produktif, memiliki akses pasar yang luas dan mampu meningkatkan kesejahteraannya,” katanya.
TIM REDAKSI











