Kolaka Timur Bersiap Hadapi Kekeringan dan Karhutla

TIRAWUTA, CORONGSULTRA.COM – Menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang diprediksi melanda tahun 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka Timur (Koltim) mulai memasang “kuda-kuda” kuat. Lewat serangkaian langkah konkret, Pemkab berkomitmen memastikan roda ekonomi dan kesejahteraan warga tidak lumpuh akibat ancaman kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Fokus utama pemerintah kali ini terbagi dalam dua pilar mitigasi. Pertama, menjaga ketersediaan air bersih sebagai kebutuhan fundamental masyarakat. Kedua, memastikan kanal-kanal pengairan lahan pertanian tetap mengalir demi menjaga ketahanan pangan daerah yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Di sisi lain, pengawasan ketat mulai diberlakukan pada titik-titik rawan api. Upaya ini dilakukan untuk menekan potensi karhutla yang kerap mengintai saat vegetasi mulai mengering diterpa kemarau panjang.

Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) yang diinisiasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Koltim, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Koltim, H. Yosep Sahaka memberikan arahan yang sarat akan pesan kesiapsiagaan. Ia menekankan bahwa bencana tidak boleh ditunggu, melainkan harus diantisipasi sejak dini.

“Seluruh instansi terkait tidak boleh lengah. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan harus masif dilakukan. Kita ingin memastikan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan warga tetap terjaga meski cuaca tidak bersahabat,” tegas Yosep.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Koltim, Rismanto Runda menyoroti pentingnya kesiapan teknis di lapangan. Ia meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk tidak hanya bekerja di atas kertas, tapi memastikan sarana dan prasarana (sarpras) siap tempur.

“Koordinasi lintas sektor adalah kunci. Kita bicara soal kecepatan respons. Sarana, prasarana, hingga SDM harus berada dalam posisi siap siaga agar penanganan di lapangan berjalan terukur,” ujar Rismanto.

Kepala BPBD Koltim, Dewa Made Ratmawan mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi peta identifikasi wilayah rawan. Pemetaan ini menjadi kompas bagi tim gabungan dalam bergerak.

Tak hanya mengandalkan kekuatan internal pemerintah, Rakor ini juga mempertegas kolaborasi antara Pemkab Koltim, TNI/Polri, serta relawan kebencanaan sebagai perpanjangan tangan di tingkat akar rumput.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menjadi mitra pemerintah dengan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Kewaspadaan kolektif adalah benteng terkuat kita saat ini,” pungkas Dewa Made.

Dengan langkah proaktif ini, daerah Koltim dapat melewati tantangan iklim tahun 2026 dengan dampak minimal, sekaligus membuktikan efektivitas manajemen bencana yang terintegrasi.

TIM REDAKSI