KENDARI, CORONGSULTRA.COM – Status tanggap darurat bencana resmi ditetapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari menyusul banjir besar yang melanda sejumlah wilayah dan berdampak pada ribuan warga. Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi bersama Forkopimda di ruang rapat Wali Kota Kendari, Senin (11/5/2026).
Penetapan status tanggap darurat dilakukan setelah curah hujan tinggi selama beberapa hari terakhir memicu banjir di sedikitnya delapan kecamatan. Banjir tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga merusak lahan pertanian, infrastruktur, hingga memaksa warga mengungsi.
Langkah ini diambil setelah delapan kecamatan di Kota Kendari dilaporkan terendam. Banjir kali ini bukan sekadar genangan lewat; ia datang dengan daya rusak yang memaksa ratusan warga angkat kaki dari rumah mereka menuju pengungsian.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menegaskan bahwa kota ini sedang tidak baik-baik saja. Baginya, bencana tahunan ini tidak bisa lagi direspons dengan cara-cara biasa. Skala dampaknya yang meluas menuntut adanya gerakan cepat yang terintegrasi lintas sektor.
“Dengan melihat kondisi wilayah Kota Kendari saat ini, kita menetapkan status tanggap darurat bencana. Ini harus dibarengi langkah nyata dan koordinasi yang lebih kuat,” kata Siska di hadapan jajaran Forkopimda.
Data sementara yang dihimpun Pemkot di lapangan. Sedikitnya 3.517 jiwa terdampak langsung, dengan 797 unit rumah terendam air. Nestapa juga menggelayuti sektor pertanian; sekitar 100 hektare sawah siap panen kini menyerupai danau dadakan, mengancam para petani dengan bayang-bayang gagal panen total.
Siska, yang turun langsung meninjau titik-titik parah seperti bantaran Kali Wanggu, menyadari betul posisi geografis Kendari yang rentan. Kota ini, menurutnya, di kala hujan beberapa hari kerap menerima air kiriman dari wilayah tetangga.
“Kendari ini muara dari beberapa kabupaten. Hujan sedikit saja sudah banjir, apalagi hujan beberapa hari berturut-turut seperti sekarang,” ujar Siska.
Di balik penetapan status tanggap darurat ini, ada dinamika lapangan yang bergerak sangat cepat. Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, membeberkan bahwa instansinya sebenarnya telah menetapkan status siaga bencana sejak 6 Mei 2026, berbekal peringatan cuaca ekstrem dari BMKG. Namun, alam berkata lain. Curah hujan yang ekstrem melompat melampaui prediksi.
“Dalam empat hari terakhir curah hujan sangat tinggi. Ada sekitar 15 titik banjir dengan beberapa lokasi terdampak cukup parah. Karena dampaknya luas, kami mengusulkan agar status ditingkatkan menjadi tanggap darurat,” papar Cornelius.
Saat ini, personel BPBD bersama berbagai pemangku kepentingan masih berjibaku di lapangan—mengevakuasi warga yang terjebak, menyalurkan bantuan logistik, hingga mulai membersihkan material banjir di tengah ancaman cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat.
Meski situasi tampak muram, Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, melihat ada celah evaluasi yang berbuah manis. Upaya normalisasi sungai yang digenjot pemkot beberapa waktu lalu terbukti memberikan dampak positif.
Kawasan Kali Korumba hingga Lorong Lasolo, yang biasanya menjadi “langganan” banjir paling parah, kali ini relatif lebih aman setelah pengerukan menggunakan ekskavator amfibi dilakukan.
“Daerah yang sudah dilakukan penanganan ternyata dampaknya sangat terasa. Di beberapa titik yang biasanya parah justru kemarin tidak banjir,” ungkap Sudirman.
Kendati demikian, Sudirman mengingatkan agar fokus pemerintah tidak kendor pada fase pascabencana. Menurutnya, membantu warga membersihkan sisa lumpur dan material banjir yang masuk ke dalam rumah harus menjadi prioritas segera.
Siska menegaskan kepada seluruh jajaranya agar sekat-sekat birokrasi dipangkas. Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) tidak boleh hanya berakhir di atas kertas atau ruang rapat yang sejuk.
“Masyarakat tidak mau tahu ini kewenangan balai, provinsi, atau pusat. Yang mereka lihat adalah pemerintah hadir atau tidak saat banjir terjadi,” ujar Siska dengan nada retoris yang kuat.
Sebagai langkah konkret pascarapat, Pemkot Kendari langsung memetakan klaster penanganan di wilayah terdampak. Dapur umum mulai didirikan, posko layanan kesehatan disiagakan, bantuan sosial disalurkan, dan tim teknis mulai diturunkan untuk mendata serta memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat terjangan air.
Kendari kini sedang berkejaran dengan waktu, mencoba pulih di tengah rintik hujan yang belum sepenuhnya reda.











