KENDARI, CORONGSULTRA.COM – Masalah banjir yang kerap melanda Kelurahan Anduonohu saat hujan turun menjadi sorotan utama dalam agenda reses anggota DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Isyatin Syam. Dalam pertemuan tersebut, Lurah Anduonohu memaparkan bahwa kondisi wilayahnya yang kini langganan banjir ditengarai sebagai imbas dari masifnya pembangunan perumahan, yang mengirimkan debit air langsung ke permukiman warga.
Menanggapi keluhan serius tersebut, Isyatin Syam mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari agar memperketat pengawasan dan tidak asal memberikan izin pembangunan kepada para pengembang perumahan tanpa adanya kesepakatan serta perencanaan drainase yang matang.
Hal tersebut dia sampaikan menanggapi aspirasi warga yang mengeluhkan daerah yang mereka tempati selalu banjir.
“Pemerintah Kota Kendari jangan asal memberikan izin pembangunan perumahan tanpa adanya kesepakatan dan perencanaan yang matang,” kata Isyatin di sela-sela kegiatan resesnya di Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari belum lama ini.
Isyatin menambahkan, seharusnya sejak awal pengembang wajib menyertakan denah pembuangan sampah dan sistem pengelolaan lingkungan yang jelas, sehingga aliran airnya tidak langsung lari dan merugikan masyarakat sekitar perumahan.
Selain persoalan banjir, Ketua RW setempat turut menyuarakan aspirasi mengenai mendesaknya kebutuhan perbaikan drainase serta pengadaan lampu jalan. Isyatin menyatakan sependapat dengan apa yang disampaikan Ketua RW tersebut.
Menurutnya, penerangan jalan sangat krusial demi menjaga keamanan dan kenyamanan warga di malam hari.
Terkait hal ini, legislator Sultra tersebut berjanji untuk segera membawa aspirasi drainase dan lampu jalan ini ke tingkat yang lebih tinggi, dengan berkoordinasi bersama seluruh anggota DPRD dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Kota Kendari yang mencakup wilayah Poasia, Abeli, dan Nambo.
“Untuk masalah lampu jalan ini, saya akan panggil dan ajak duduk bersama seluruh anggota DPRD dari Dapil 3 Kota Kendari. Kita ada tujuh orang lintas partai di sana, kita pikirkan bersama jalan keluarnya. Selain itu, pengadaan ke depan sebaiknya menggunakan lampu tenaga surya agar tidak membebani biaya PLN yang sangat besar,” katanya.
Di sisi lain, keluhan mengenai ketiadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara juga menjadi sorotan hangat dalam reses tersebut. Salah seorang warga mengeluhkan bahwa mereka harus berjalan cukup jauh keluar kompleks perumahan hanya untuk membuang sampah rumah tangga.
Merespons hal itu, Isyatin mengungkapkan, persoalan sampah di wilayah Kota Kendari memang pelik karena minimnya lahan yang tersedia untuk dijadikan lokasi Tempat Penampungan Sementara (TPS). Ia juga menyayangkan adanya fenomena di mana banyak warga yang justru sengaja membuang sampah sembarangan di tepi jalan utama.
Di akhir pertemuan, Isyatin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan demi menjaga marwah ibu kota provinsi.
“Persoalan sampah ini adalah tugas kita bersama. Saya mengimbau kepada ibu-ibu dan seluruh warga, tolong sampahnya dikemas di dalam kantung dulu dan jangan dibuang sembarangan. Kita harus ingat, wajah Sulawesi Tenggara itu ada di Kota Kendari, jadi kebersihan ini harus kita jaga bersama,” pungkas Isyatin.









