KENDARI, CORONGSULTRA.COM – Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), H. Herry Asiku, baru saja menuntaskan agenda resesnya di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep). Dalam kunjungan kerja tersebut, politisi senior ini turun langsung mendengarkan denyut nadi kehidupan masyarakat di tiga desa pesisir yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup sebagai nelayan dan petani.
Kepada Corongsultra.com, Kamis (11/6/2026), Herry Asiku mengungkapkan bahwa masyarakat di wilayah tersebut menaruh harapan besar pada intervensi pemerintah untuk memulihkan dan meningkatkan produktivitas ekonomi mereka.
Aspirasi Nelayan dan Petani: dari Alat Tangkap hingga Cetak Sawah
Herry Asiku mengatakan, para nelayan mengeluhkan keterbatasan fasilitas penunjang produktivitas mereka. Mereka sangat membutuhkan bantuan armada perahu serta alat-alat tangkap modern seperti pukat dan peralatan pendukung lainnya.
Sementara di sektor pertanian, potensi lahan yang siap kelola di wilayah tersebut terbilang cukup menjanjikan. Herry menyebut warga mengusulkan adanya program pencetakan sawah baru seluas 300 hektar.
“Selain itu, petani setempat juga mengharapkan bantuan bibit tanaman pangan dan perkebunan, mulai dari pala, cengkeh, nilam, hingga bibit kelapa dalam dan kelapa sawit, menyesuaikan kesiapan lahan mereka,” ungkapnya.
Infrastruktur Pesisir yang Mengkhawatirkan
Tak hanya masalah mata pencaharian, ancaman keselamatan pemukiman akibat abrasi air laut menjadi kekhawatiran terbesar warga di tiga desa tersebut. Kondisi rumah-rumah warga di pesisir pantai dilaporkan sudah mulai terkikis dan terancam hanyut dibawa ombak jika tidak segera ditangani.
Oleh karena itu, masyarakat mendesak agar pemerintah segera membangun talud pemecah ombak untuk melindungi pemukiman mereka. Di samping itu, mereka juga mengusulkan pembangunan jalan tani sepanjang kurang lebih 8 hingga 9 kilometer untuk mempermudah akses mobilitas hasil bumi antar desa.
Saat disinggung mengenai aspirasi lain seperti beasiswa pendidikan, Herry menjelaskan, masyarakat saat ini lebih memilih agar anggaran difokuskan pada penanganan infrastruktur pesisir yang mendesak.
“Mereka bilang fokus ke sini dulu (talud), karena rumah mereka terancam bawa air laut. Untuk pendidikan, alhamdulillah sekolah dekat dan mereka merasa masih bisa membiayai sendiri secara mandiri,” ujarnya.
Mengapa Kembali ke Konawe Kepulauan?
Herry Asiku memiliki alasan kemanusiaan dan sosial. Menurutnya, Konkep merupakan salah satu daerah pesisir terluar yang masih sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah, terutama terkait penanganan masalah krusial seperti angka stunting.
Ia mengakui bahwa reses di wilayah kepulauan ini memakan biaya dan energi yang tidak sedikit. Ia dan rombongan harus menyeberang menggunakan kapal feri selama tiga jam, membawa kendaraan operasional, hingga menginap berhari-hari di hotel sederhana setempat demi bisa membaur dan melihat langsung kondisi warga.
“Kalau daerah Konawe atau Konawe Utara itu aksesnya darat dan gampang, keterwakilannya sudah banyak. Saya sengaja memilih Konawe Kepulauan karena jalurnya menantang dan daerahnya terpencil. Meskipun konstituen di sana tidak seberapa banyak dibanding wilayah daratan, saya merasa mereka jauh lebih membutuhkan bantuan kita,” pungkas Herry menutup perbincangan.
TIM REDAKSI










