Dewan Pers: Pahami AI Sebagai Alat Tingkatkan Kualitas Karya Jurnalistik

JAKARTA, CORONGSULTRA.COM — Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di era modern seharusnya menjadi angin segar bagi industri media. Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menegaskan bahwa AI semestinya hadir untuk memperbesar potensi manusia yang mampu berpikir lebih dalam, lebih strategis, dan lebih imajinatif.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar insan pers tidak sekadar menjadi penonton, melainkan harus memahami AI sebagai alat untuk meningkatkan kualitas karya, memperluas jangkauan, dan membuka peluang ekonomi baru.

“AI sebuah keniscayaan yang harus kita dalami, kuasai. AI jangan digunakan hanya untuk melaksanakan pekerjaan kita tanpa memastikan bahwa kita adalah manusia yang diberikan otak lebih kuat. Kreativitas adalah kunci dalam pengelolaan dan penggunaan AI sebagai tools,” ujar Totok Suryanto seperti dikutip dari laman Dewan Pers.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Anggota Dewan Pers sekaligus Ketua Komisi Digital & Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi. Ia tidak menampik bahwa AI memiliki kemampuan luar biasa yang bisa membantu industri pers. Namun di sisi lain, teknologi ini juga membawa isu etis yang harus diwaspadai.

“AI harus dilihat sebagai teknologi yang membantu manusia, bukan malah menghancurkan manusia,” tegas Dahlan Dahi.

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, Dewan Pers sebenarnya telah bergerak cepat dengan mengeluarkan Peraturan Dewan Pers No 1 Tahun 2025 Tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.

Terkait regulasi ini, Anggota Dewan Pers sekaligus Wakil Ketua Komisi Digital & Sustainability Dewan Pers, Rosarita Niken Widiastuti, mengingatkan seluruh insan pers untuk selalu berpegang teguh pada pedoman yang ada. Langkah ini penting demi menjaga marwah dan keandalan produk jurnalistik.

“Di Peraturan Dewan Pers No 1 Tahun 2025 disebutkan bahwa dalam membuat karya jurnalistik, proses dari awal hingga akhirnya harus melibatkan manusia. Diatur juga tentang integritas penggunaannya sebab data AI itu belum tentu benar. Data AI diambil dari berbagai sumber. Peran pers, jurnalis selama ini telah mem-feeding AI dengan data-data yang akurat. Untuk itu kita sebagai pelaku pers harus terus berpegang pada pedoman,” papar Niken Widiastuti.

Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mengawal transisi digital ini, Dewan Pers telah dan akan rutin melaksanakan pelatihan pemanfaatan AI yang ditujukan bagi industri pers.

Melalui program edukasi yang berkelanjutan ini, perusahaan pers diharapkan mampu memanfaatkan teknologi AI secara lebih strategis. Tujuannya adalah meningkatkan daya saing media lokal maupun nasional, memperkuat keberlanjutan bisnis, serta melahirkan karya-karya kreatif yang tetap relevan di era digital.

TIM REDAKSI