Menghidupkan Sektor Peternakan Konsel Lewat Inovasi Hijauan dan Manajemen Modern

KONAWE SELATAN, CORONGSULTRA.COM — Wajah peternakan rakyat di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) perlahan bersiap naik kelas. Puluhan akademisi lintas kampus dari berbagai penjuru tanah air turun gunung menyambangi sentra-sentra peternakan di daerah ini, membawa angin segar berupa teknologi tepat guna dan strategi pengelolaan usaha yang lebih efisien.

Gerakan kolektif bertajuk Pengabdian Kolaborasi Nasional ini tidak berhenti pada seremoni di ruang tertua. Para dosen dan peneliti justru langsung menyatu dengan warga di dua titik berbeda, yakni Kecamatan Konda dan Desa Jatibali di Kecamatan Ranomeeto Barat, untuk membedah persoalan mendasar yang selama ini dihadapi para peternak.

Di Kecamatan Konda, fokus utama tertuju pada problem klasik dunia peternakan: ketersediaan pakan berkualitas. Di hadapan para peternak, sejumlah pakar ternama membedah strategi pengembangan hijauan pakan unggul sebagai fondasi utama kemandirian usaha.

Hadir sebagai narasumber, Prof. Ir. Nafiatul Umami dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Rahmi Dianita dari Universitas Jambi, serta Apdila Safitri dari Universitas Mulawarman.

Mereka membagikan trik seputar pemilihan bibit tanaman pakan yang adaptif, teknik budidaya, pengelolaan lahan, hingga pemanfaatan sumber daya lokal guna menekan biaya produksi yang kian membengkak.

Menurut Prof. Nafiatul, kunci ketahanan peternakan terletak pada kemampuan peternak memproduksi pakan sendiri yang selaras dengan kondisi lingkungan sekitar.

Senada dengan itu, Prof. Rahmi dan Apdila menekankan bahwa efisiensi pakan dan optimalisasi hijauan lokal adalah kunci mutlak untuk mendongkrak kesehatan sekaligus performa ternak ruminansia.

Sementara itu, pemandangan berbeda tersaji di Desa Jatibali, Kecamatan Ranomeeto Barat. Sebanyak 40 peternak sapi tampak antusias mengikuti pelatihan integrasi pakan dan manajemen budidaya yang diinisiasi oleh kolaborasi akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Halu Oleo (UHO), dan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).

Di lokasi ini, materi yang disajikan lebih menyasar tata kelola harian kandang, mulai dari pencegahan penyakit, teknik penyusunan nutrisi, hingga pemanfaatan rumput unggul seperti rumput gajah dan rumput Pakchong. Tidak ketinggalan, limbah agroindustri sekitar turut disulap menjadi sumber pakan alternatif bernutrisi tinggi.

Prof. Dr. Sri Suharti dari IPB menjelaskan, integrasi manajemen budidaya yang baik dan pemanfaatan bahan lokal terbukti mampu mendongkrak produktivitas sapi potong sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi peternak.

Hal ini disetujui oleh dosen Fakultas Peternakan UHO, drh. Nara Prasanjaya, yang menyebut pendampingan intensif ini dirancang agar peternak semakin mandiri dan cakap mengelola bisnis ternaknya.

Langkah nyata para akademisi ini disambut hangat oleh pemerintah setempat. Kepala Desa Jatibali, I Made Budiartha, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para ahli yang langsung memberikan solusi aplikatif bagi warganya.

Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat di Konsel ini diharapkan mampu mencetak ekosistem peternakan yang lebih tangguh, mandiri, dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan warga di tingkat akar rumput.

TIM REDAKSI 

News Feed