Rapat Paripurna KUA PPAS 2027, Wagub Hugua Beberkan Deretan Capaian Pembangunan Daerah

KENDARI, CORONGSULTRA.COM — Suasana ruang sidang utama DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) terasa dinamis ketika Wakil Gubernur (Wagub) Sultra, Hugua, berdiri menyampaikan capaian pembangunan daerah dalam pidato pengantar rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027.

Di atas podium rapat paripurna DPRD, Senin (3/8/2026), Wagub Hugua memaparkan data impresif perekonomian Sultra berhasil mencatatkan pertumbuhan di angka 6,23 persen. Capaian ini turut mengerek Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra menembus Rp52,55 triliun, sebuah cerminan nyata dari potensi besar yang tersimpan di Bumi Anoa.

Geliat ekonomi tersebut, menurut Hugua, ditopang kuat oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum yang melesat paling tinggi sebesar 20,14 persen. Lonjakan ini sekaligus menjadi sinyal kuat mulai bangkitnya industri pariwisata serta daya beli masyarakat yang semakin bergairah.

Hugua mengatakan, pertumbuhan ekonomi ditopang sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,14 persen.

Tak hanya itu, optimisme investor juga terlihat dari angka Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 16,95 persen, menandakan aliran investasi terus mengalir masuk ke Sultra.

Meski sektor-sektor modern mulai menunjukkan taringnya, tulang punggung perekonomian Sultra tetap berdiri kokoh pada sektor tradisional. Pertanian, kehutanan, andalan utama masyarakat, menyumbang 23,38 persen terhadap PDRB, disusul sektor pertambangan sebesar 20,12 persen, serta perdagangan di angka 13,04 persen.

Kabar baiknya, pertumbuhan ekonomi ini tidak hanya dinikmati segelintir pihak. Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Sultra yang diukur melalui Gini Ratio pada September 2025 tercatat turun ke angka 0,357. Tren penurunan ini membuktikan bahwa distribusi pembangunan berjalan semakin merata dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

Mengentaskan Kemiskinan dan Perluasan Lapangan Kerja

Komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra dalam menekan angka kemiskinan terus membuahkan hasil lewat program yang terintegrasi. Berdasarkan data Februari 2026, persentase penduduk miskin berada di angka 10,14 persen, turun 0,40 persen poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Seiring langkah itu, jumlah angkatan kerja ikut merangkak naik menjadi 1.457,23 ribu orang pada Februari 2026—bertambah 27,41 ribu orang dari tahun sebelumnya. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pun berhasil ditekan turun ke angka 3,25 persen.

“Berdasarkan data BPS Sulawesi Tenggara per Mei 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi juara dalam menyerap tenaga kerja terbanyak, yakni sebesar 36,06 persen,” ungkapnya.

Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, serta sepeda motor menyusul di posisi berikutnya dengan penyerapan 15,06 persen, diikuti sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 8,54 persen.

Menjaga Stabilitas Harga dan Kualitas Sumber Daya Manusia

Di tengah pertumbuhan ekonomi daerah, stabilitas harga tetap menjadi perhatian serius. Inflasi year-on-year (y-o-y) Sultra pada Juni 2026 tercatat di angka 4,60 persen. Bau-Bau mencatat inflasi tertinggi di angka 5,60 persen, sementara Konawe menjadi daerah dengan inflasi terendah di angka 2,12 persen.

Hugua menekankan pentingnya menjaga inflasi agar tetap terkendali guna mendongkrak daya beli masyarakat, mendorong investasi, serta menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Hal ini tentunya harus didukung oleh sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan program-program yang efektif, efisien, dan kolaboratif.

“Dengan membaiknya seluruh indikator makro ekonomi ini, kita optimis perekonomian Sulawesi Tenggara ke depan akan semakin membaik, merata, dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” ujar Hugua.

Kualitas manusia di Sultra turut mencatat rapor biru. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sultra tahun 2024 menembus angka 74,25 dan berada dalam kategori tinggi. Angka ini naik 0,63 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

“Peningkatan ini didorong oleh membaiknya seluruh dimensi pembentuk IPM, termasuk standar hidup layak, usia harapan hidup yang mencapai 72,6 tahun, serta harapan lama sekolah di angka 13,72 tahun,” ungkapnya.

Prestasi tersendiri ditorehkan oleh sejumlah daerah yang sukses masuk dalam jajaran elit regional. Terdapat delapan kabupaten/kota di Sultra yang mencatatkan IPM di atas 80. Kota Kendari memimpin di puncak dengan angka 6,36 sebagai daerah ber-IPM tertinggi se-Sultra, disusul Kota Bau-Bau di angka 80,29.

Kendati tren yang terbangun sangat positif, Pemprov Sultra menyadari bahwa capaian ini bukanlah garis finis. Masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama, terutama merajut pemerataan pembangunan yang lebih adil antara wilayah daratan dan kepulauan.

TIM REDAKSI