Curhat Kepala Kesbangpol di DPRD Sultra: Tidak Punya Kendaraan Operasional Antar Jemput Paskibraka

KENDARI, CORONGSULTRA.COM — Di balik khidmatnya prosesi pengibaran bendera merah putih setiap tanggal 17 Agustus, tersimpan cerita perjuangan yang tak biasa dari balik layar. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) harus berjuang ekstra mengatasi keterbatasan fasilitas demi menyukseskan mobilitas puluhan anak-anak Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

Setiap tahun menjelang hari kemerdekaan, masalah klasik selalu berulang, tidak adanya kendaraan operasional Kesbangpol Sultra untuk mengangkut puluhan anggota Paskibraka. Alhasil, harus memutar otak dengan meminjam kendaraan lintas instansi.

Selama masa pemusatan latihan yang berlangsung selama 24 hari, mereka terpaksa menumpang kendaraan dinas dari Sekretariat Daerah hingga Lanud Halu Oleo. Bahkan, tahun ini Kesbangpol harus meminjam mobil operasional Dalmas milik Dinas Sosial.

“Setiap tahun kami terkendala kendaraan operasional untuk memobilisasi adik-adik Paskibraka. Kami sering harus meminjam kendaraan dari pimpinan, mulai dari mobil dinas Sekretaris Daerah hingga Dinas Sosial, agar mereka terangkut selama masa pemusatan latihan 24 hari,” ungkap Kepala Badan Kesbangpol Sultra, Adrian saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi I DPRD Sultra, Kamis (6/8/2026).

Kendaraan pinjaman ini pun memiliki tantangan tersendiri, terutama menjelang malam pengukuhan dan hari H upacara. Pada momen tersebut, para anggota Paskibraka sudah harus mengenakan Pakaian Dinas Lengkap (PDL) berwarna putih. Penggunaan mobil Dalmas tentu tidak memungkinkan lagi karena dikhawatirkan mengotori seragam putih yang mereka kenakan, sehingga mereka meminjam mobil operasional Sekretariat DRPD Sultra.

Di tengah keterbatasan sarana transportasi dan fasilitas pendukung, nyala semangat anak-anak Paskibraka Sultra justru tak pernah surut. Mereka adalah putra-putri terbaik daerah yang lolos seleksi ketat dari berbagai Kabupaten/Kota, dengan latar belakang keluarga yang sangat sederhana.

“Karena terus terang, anak-anak kalau mau diceritakan, yang datang ini betul-betul karena motivasi dan semangat ya. Ada anaknya petani, anaknya nelayan, ada anaknya penjual tahu dari Kolaka Timur,” tutur Adrian.

Ia bahkan menceritakan kisah inspiratif dari salah satu peserta Paskibraka yang berhasil lolos mewakili Sultra ke tingkat nasional, yang ternyata merupakan anak seorang nelayan asal Kabupaten Buton Utara. Tekad baja dari anak-anak muda inilah yang menjadi energi tersendiri bagi panitia untuk terus memberikan yang terbaik.

Adrian mengungkapkan, pengorbanan para anggota Paskibraka ini tidaklah kecil. Selama kurang lebih 24 hari, mereka menjalani latihan fisik yang sangat berat dari pagi hingga petang.

“Dari jam 07.00 sudah start, kemudian sampai jam 17.30 baru mereka tinggalkan Lapangan Gubernur,” ujarnya.

Beratnya intensitas latihan tersebut harus mereka jalani di tengah besaran honor yang, jika dihitung secara rasional, tergolong sangat minim—yakni hanya sebesar Rp1.150.000 per anak untuk masa kerja selama satu bulan penuh.

Sebagai bentuk penghargaan atas keringat dan dedikasi luar biasa tersebut, Pemerintah Provinsi Sultra selama ini rutin memberikan apresiasi khusus berupa studi pengenalan wawasan kebangsaan ke luar daerah. Tahun-tahun sebelumnya, para purna Paskibraka sempat diberangkatkan berkunjung ke Akademi Militer (Akmil) di Magelang hingga Akademi Kepolisian (Akpol).

Sayangnya, tradisi apresiasi yang membanggakan tersebut kini terancam hilang. Adrian mengungkapkan kekhawatirannya lantaran anggaran untuk Paskibraka pada tahun ini mengalami pemangkasan yang sangat drastis.

“Kemarin anggaran Paskibraka kita itu hampir Rp3 miliar, hilang Rp1,7 miliar, sisa Rp1,2 miliar. Jadi kami berharap mudah-mudahan apresiasi itu tidak hilang, karena tahun ini sudah tidak ada lagi anggaran untuk kegiatan ini,” pungkasnya penuh harap.

TIM REDAKSI 

News Feed