Sultra Ekspor Perdana 1.027 Ton Tapioka dan Minyak Kelapa ke China-Malaysia

KONAWE SELATAN, CORONGSULTRA.COMProvinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengukir sejarah baru dalam pengembangan sektor pertanian dan agroindustri. Secara perdana, sebanyak 1.027 ton komoditas unggulan daerah ini resmi diekspor langsung ke China dan Malaysia melalui pelepasan di Desa Arongo, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Kamis kemarin (10/9/2026).

Pengiriman mancanegara yang digawangi oleh PT Agri Cassava Makmur ini mencakup 900 ton tepung tapioka ke China serta 127 ton minyak kelapa (crude coconut oil) ke Malaysia.

Pelepasan ekspor perdana tersebut dihadiri oleh Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka, Anggota Komisi IV DPR RI asal Sultra Jaelani, jajaran Forkopimda Sultra, Wakil Bupati Konawe Selatan, serta para Kepala OPD dan instansi vertikal terkait.

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak sejarah penting. Selama ini, potensi besar pertanian Sultra sering kali diekspor via daerah lain seperti Makassar dan Surabaya, sehingga nama Sultra tak tercatat sebagai daerah pengekspor. Ekspor langsung ini membuktikan bahwa produk lokal kini berdaya saing global sekaligus menjadi penanda kesiapan infrastruktur pelabuhan serta logistik di Sultra.

“Ini merupakan momentum yang sangat penting, strategis, dan membanggakan bagi Provinsi Sultra karena dapat melaksanakan pelepasan ekspor perdana secara langsung komoditas hasil pertanian daerah Sultra,” katanya.

“Banyak komoditi unggulan pertanian Sultra yang selama ini diekspor melalui daerah lain seperti Makassar dan Surabaya. Akibatnya, daerah lain yang tercatat sebagai daerah pengekspor, sementara Sultra tidak tercatat sebagai daerah pengekspor komoditas pertanian maupun perkebunan,” tuturnya.

Pemprov Sultra berkomitmen terus mendorong hilirisasi agar komoditas tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, melainkan produk olahan bernilai tambah tinggi yang mampu membuka lapangan kerja. Kendati demikian, Gubernur menekankan pentingnya menjaga standar mutu secara berkelanjutan.

“Kita hanya melihat bahwa potensi kita banyak, tapi apakah produk itu bernilai, berkualitas, aman, dan yang paling penting berkelanjutan,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding menyambut positif keberhasilan ini. Menurutnya, hilirisasi pertanian, perikanan, dan energi merupakan fokus prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang kini terus didorong ke seluruh daerah.

“Pemerintah pusat itu lewat Presiden Prabowo Subianto salah satu program agenda utama prioritasnya adalah hilirisasi di bidang pertanian, perikanan, dan juga energi. Makanya sekarang didorong ke semua daerah, selain pembukaan lahan dan intensifikasi, tetapi juga yang diutamakan bagaimana ada pabrik pengolahan,” jelasnya.

Karding menambahkan bahwa pihaknya siap mendampingi para pelaku usaha dan UMKM dalam memenuhi standar kesehatan serta kredibilitas produk agar proses ekspor berjalan lancar.

“Yang penting para pengusaha atau UMKM ini, standar kesehatan, kualitas, mutu dan kredibilitas terpenuhi. Kalau itu terpenuhi, ekspor bisa dilaksanakan dengan baik,” katanya.

Dukungan juga mengalir dari Anggota Komisi IV DPR RI asal Sultra, Jaelani. Ia memaparkan bahwa sektor pertanian menyumbang sekitar 23 persen terhadap PDRB Sultra—mengungguli sektor pertambangan (21 persen) dan perdagangan (20 persen).

“Artinya, sektor pertanian ini adalah potensi yang sangat luar biasa untuk kita kembangkan,” ujar Jaelani.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung kawasan industri tepung tapioka PT Agri Cassava Makmur oleh Kepala Badan Karantina Indonesia bersama Gubernur Sultra. Rombongan melihat langsung alur produksi dari pengelolaan bahan baku, pengemasan finish goods, hingga pemeriksaan akhir komoditas sebelum segel resmi Karantina dipasang.

TIM REDAKSI

 

News Feed