KENDARI, CORONGSULTRA.COM –
Pesatnya pertumbuhan industri di Sulawesi Tenggara (Sultra) membutuhkan tenaga kerja siap pakai yang terampil. Alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah tersertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra dapat menjadi jawaban kebutuhan tenaga kerja ditengah masifnya perkembangan industri di Sultra.
Berdasarkan data BPS yang dihimpun media ini, ekonomi Sultra tumbuh 6,19 persen pada Triwulan II 2026, dengan Industri Pengolahan sebagai sumber pertumbuhan tertinggi yang mencapai 14,78 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong hilirisasi nikel dan pembangunan smelter.
Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sultra mencatat, capaian investasi Januari-Juni 2026 saja sudah mencapai Rp18,552 triliun atau 51 persen dari target, yang didominasi investasi smelter nikel dari Penanaman Modal Asing (PMA). Secara kumulatif, ekspor Sultra Januari-Agustus 2026 juga didominasi sektor industri pengolahan senilai US$2,65 miliar atau 99,82 persen dari total ekspor.
Pertumbuhan industri yang meningkat tersebut tentu membutuhkan kesiapan sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu sumber SDM siap pakai tersedia di sekolah berbasis vokasi atau SMK. Dengan jumlah 164 SMK di Sultra dengan berbagai latar belakang jurusan, bukan hal mustahil kebutuhan tenaga kerja industri dapat diserap dari alumni SMK lokal.
Kepala Bidang SMK Dikbud Sultra, Ishak Paway, S.Pd, MA, mengatakan bahwa kurikulum SMK saat ini berbasis industri sehingga kompetensi menjadi keharusan.
“Dalam rangka memenuhi kebutuhan lapangan kerja, kurikulum SMK saat ini telah berbasis industri sehingga dibutuhkan kompetensi. Hal tersebut yang mendasari pembentukan Lembaga Sertifikasi Pihak Pertama (LSP-P1) Dikbud,” katanya beberapa hari lalu.
Lanjut Ishak, LSP-P1 Dikbud menjadi lembaga sertifikasi pertama yang dibentuk untuk memfasilitasi uji kompetensi bagi seluruh siswa SMK berbasis jurusan. Dengan adanya lembaga ini, alumni SMK nantinya akan membawa dua ijazah, yakni ijazah akademik layaknya sekolah umum dan sertifikat keahlian yang diakui industri.
“Semakin mereka menguasai teori dan praktik, maka otomatis semakin besar peluang dinyatakan lulus uji kompetensi,” jelasnya.
Ishak menambahkan, Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka sangat mendukung agar lulusan SMK dapat terserap dunia kerja di tengah masifnya industrialisasi daerah.
“Mungkin tahun ini belum signifikan, tapi tahun-tahun selanjutnya akan semakin fokus bagaimana anak-anak bisa bekerja,” ujarnya.
Berdasarkan data tahun 2025 yang dirilis pada 2026, sekitar 65 persen alumni SMK di Sultra terserap di dunia kerja, sementara 19 hingga 25 persen melanjutkan pendidikan.
“Selebihnya itu wirausaha. Ada beberapa persoalan mereka berwirausaha, salah satunya adalah kondisi dan keadaan,” tutupnya.
Keberadaan LSP-P1 ini menjadi angin segar, mengingat Sultra merupakan salah satu pusat hilirisasi nikel nasional dengan kebutuhan tenaga kerja terampil yang terus meningkat.
Laporan: Naja










