Agama untuk apa?? Kehidupan Dunia Sebagai Permainan yang Butuh Tutorial

Bayangkan kamu sedang memainkan sebuah permainan. Kamu tidak tahu tombol mana yang harus ditekan, apa tujuan yang harus dicapai, dan kapan permainan itu berakhir. Pasti kamu akan mencari video tutorial atau bertanya kepada orang‑orang yang sudah mahir memainkannya, bukan?

Hal itu bukan tanda bahwa kamu lemah. Justru dengan belajar, kamu menjadi semakin cakap dan terampil. Seandainya aku berada di posisimu, aku pun akan melakukan hal yang sama.

Tetapi pernahkah kita berpikir: kita rela menghabiskan banyak waktu mempelajari cara main permainan yang tidak menentukan nasib kita, namun sering mengabaikan petunjuk untuk menjalani kehidupan yang benar‑benar menentukan masa depan kita?

Allah SWT berfirman dalam Surah Al‑Hadid ayat 20:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah‑megahan di antara kamu serta berlomba‑lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan.”

Dari ayat itu kita dapat memahami bahwa dunia ini ibarat permainan, yang juga membutuhkan tutorial dan pembimbing yang mumpuni. Panduan utama untuk menaklukkan rintangan‑rintangan dalam “permainan” kehidupan ini adalah agama, yang petunjuknya tertulis di dalam Al‑Qur’anul Karim. Pembimbing yang patut kita ikuti adalah para nabi dan rasul.

Dengan panduan itu, kita tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kesulitan, apa tujuan hidup yang sesungguhnya, dan bagaimana cara mencapainya.

Aku sendiri sudah lama mencoba menjalankan petunjuk‑petunjuk tersebut. Misalnya ketika melihat teman mendapatkan nikmat yang belum aku miliki, aku menggunakan “skill menjaga hati” dengan merenungkan Surah An‑Nisa ayat 32:

“Janganlah kamu berangan‑angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki‑laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia‑Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Seketika hatiku menjadi tenang, tanpa ada rasa iri sedikit pun.

Itulah fungsi agama. Agama mencegah kita terjatuh ke dalam kesombongan saat bahagia, sekaligus menjadi penopang agar kita tidak terperosok ke jurang keputusasaan saat dilanda kesedihan. Itulah sebabnya tulisan‑tulisanku sering membawa muatan religius.

Tulisan: Abidal buwaithi. Sedang studi di Sulaimaniyah Turki.