KENDARI, CORONGSULTRA.COM – Ratusan Kader Partai Nasdem Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan aksi damai terkait pemberitaan Majalah Tempo yang dinilai menyudutkan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh. Mereka menganggap narasi yang dibangun media tersebut bukan lagi bentuk kritik konstruktif, melainkan sebuah upaya penggiringan opini atau framing yang tendensius, Rabu (15/4/2024)..
Aksi damai tersebut diikuti ratusan kader Nasdem di antaranya para pengurus partai serta anggota Fraksi Nasdem DPRD Provinsi, Kabupaten, dan Kota. Mereka bersama-sama long march dari gedung DPW Nasdem Sultra menuju Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sultra.
Dalam pernyataan sikapnya, perwakilan kader Nasdem Sultra menyebut bahwa Tempo telah mencoba menggiring opini publik untuk melihat Partai Nasdem sebagai sebuah institusi komersial. Narasi ini dianggap simplistik dan menyesatkan publik secara umum.
“Tempo yang kerap mengklaim diri sebagai penjaga nilai nasionalisme, justru gagal memahami esensi nasionalisme itu sendiri,” ujar salah satu orator dalam aksi tersebut di Sekretariat PWI Sultra, Rabu (15/4/2026).
Menurut mereka, nasionalisme seharusnya diwujudkan dalam tindakan nyata dan konsistensi terhadap bangsa, bukan sekadar retorika demi mengejar sirkulasi media.
Kader Nasdem Sultra menegaskan bahwa Surya Paloh telah menunjukkan sikap nasionalisme yang jauh lebih mendalam dibandingkan narasi yang dibangun oleh pihak media tersebut. Mereka menyayangkan kebebasan pers yang dianggap tidak dibarengi dengan rasa tanggung jawab, yang justru dapat menjadi bentuk kemunduran bagi demokrasi.
Menutup pernyataan sikap tersebut, segenap kader Partai Nasdem Sultra menyampaikan tuntutan. Pihak Majalah Tempo diminta untuk menyampaikan permohonan maaf secara tertulis kepada pimpinan Partai Nasdem serta seluruh relawan dan simpatisan di seluruh Indonesia.
Nasdem Sultra meminta pimpinan Majalah Tempo untuk tidak lagi mengulangi pemberitaan yang tidak akuntabel di masa mendatang.
Aksi ini ditegaskan sebagai bentuk tanggung jawab kader demi menjaga kehidupan pers yang tetap menjunjung tinggi etika dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya.
Menanggapi tuntutan tersebut, Ketua PWI Sultra, Sarjono menyatakan, pihaknya menerima aspirasi kader Nasdem dengan tangan terbuka. Ia menegaskan bahwa PWI, sebagai salah satu konstituen Dewan Pers, akan menindaklanjuti laporan tersebut sesuai dengan mekanisme dan ranah hukum pers yang berlaku.
“Kami akan meneruskan aspirasi ini ke Dewan Pers, menyampaikan tembusan ke kantor Tempo di Jakarta, serta melapor ke PWI Pusat,” ujar Sarjono di hadapan massa aksi.
Ia juga menambahkan bahwa dirinya telah berkoordinasi langsung dengan Ketua PWI Pusat dan Dewan Kehormatan untuk mencari solusi terbaik atas persoalan ini.
Sarjono sempat menyinggung kedekatan emosional antara dunia pers dengan tokoh-tokoh Nasdem. Ia menyebut Surya Paloh sebagai tokoh pers nasional yang sangat dihormati oleh komunitas wartawan. Begitu pula dengan Ketua DPW Nasdem Sultra, Ali Mazi, yang memiliki rekam jejak panjang sebagai pengelola media sebelum menjabat sebagai Gubernur Sultra.
“Kita sebenarnya hanya berpindah habitat, tetapi memiliki kultur yang sama,” ujarnya.
Sarjono menekankan bahwa kontrol tertinggi terhadap kinerja pers berada di tangan publik. Ia berharap kritik dan masukan yang disampaikan oleh kader Nasdem dapat menjadi bahan evaluasi agar insan pers semakin dewasa dan profesional dalam menjalankan Kode Etik Jurnalistik serta Undang-Undang Pers.
“Mudah-mudahan masukan dan kritik ini akan mendewasakan pers untuk bekerja bagi publik yang lebih sehat di masa yang akan datang,” tutup Sarjono.
TIM REDAKSI





