KENDARI, CORONGSULTRA.COM – Anggota DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Isyatin Syam melaksanakan kegiatan reses masa sidang II tahun sidang 2025-2026 di Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, baru-baru ini.
Legislator dari Partai Demokrat ini bertemu langsung dengan warga Anduonohu serta pemerintah kelurahan dan kecamatan setempat dalam suasana akrab membuat mereka leluasa menyampaikan aspirasi maupun keluhan.
Dalam pertemuan tersebut, Lurah Anduonohu yang hadir dalam reses memaparkan kondisi wilayahnya yang kerap dilanda banjir saat hujan turun. Banjir ini ditengarai sebagai imbas dari masifnya pembangunan perumahan yang mengirimkan debit air ke pemukiman warga.
Menanggapi hal itu, Isyatin meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari agar memperketat pengawasan dan tidak asal memberikan izin pembangunan perumahan tanpa adanya kesepakatan serta perencanaan drainase yang matang.
“Pemerintah Kota Kendari jangan asal memberikan izin pembangunan perumahan tanpa adanya kesepakatan dan perencanaan yang matang. Seharusnya sejak awal pengembang wajib menyertakan denah pembuangan sampah dan sistem pengelolaan lingkungan yang jelas, sehingga aliran airnya tidak langsung lari dan merugikan kelurahan di bawahnya seperti ini,” tegas Isyatin.
Selain masalah banjir, Ketua RW setempat turut menyuarakan aspirasi mengenai kebutuhan perbaikan drainase serta pengadaan lampu jalan. Isyatin sependapat apa yang disampaikan Ketua RW tersebut. Ia menilai penerangan jalan ini sangat krusial demi keamanan warga di malam hari.
Terkait hal ini, ia berjanji untuk segera membawa aspirasi tersebut ke tingkat penyelesaian dengan berkoordinasi bersama seluruh anggota DPRD dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Kota Kendari yang mencakup wilayah Poasia, Abeli, dan Nambo.
“Untuk masalah lampu jalan ini, saya akan panggil dan ajak duduk bersama seluruh anggota DPRD dari Dapil 3 Kota Kendari. Kita ada tujuh orang lintas partai di sana, kita pikirkan bersama jalan keluarnya. Selain itu, pengadaan ke depan sebaiknya menggunakan lampu tenaga surya agar tidak membebani biaya PLN yang sangat besar,” ujarnya.
Di sisi lain, keluhan mengenai ketiadaan tempat pembuangan sampah (TPS) sementara juga menjadi sorotan hangat dalam reses tersebut. Salah seorang warga mengeluhkan bahwa mereka harus berjalan jauh keluar kompleks perumahan hanya untuk membuang sampah yang sudah dikemas.
Isyatin mengungkapkan, persoalan sampah di wilayah Kota Kendari memang pelik karena minimnya lahan yang bersedia dijadikan lokasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Ia menyayangkan banyaknya warga luar kompleks perumahan yang justru sengaja membuang sampah sembarangan di tepi jalan utama hingga merusak estetika kota.
“Persoalan sampah ini adalah tugas kita bersama. Saya mengimbau kepada ibu-ibu dan seluruh warga, tolong sampahnya dikemas di dalam kantung dulu dan jangan dibuang sembarangan. Kita harus ingat, wajah Sulawesi Tenggara itu ada di Kota Kendari, jadi kebersihan ini harus kita jaga bersama,” pungkas Isyatin.
TIM REDAKSIĀ





