KENDARI, CORONGSULTRA.COM – Rencana pemerintah pusat untuk membangun pabrik pengolahan aspal Buton di Karawang, Provinsi Jawa Barat, menuai tanggapan dari tokoh masyarakat sekaligus Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), H. Herry Asiku.
Dalam diskusi hangat di forum Sultra Lawyers Club bertajuk “Pabrik Aspal Buton di Karawang, Kita Dapat Apa?” yang digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Selasa (12/5/2026), Herry Asiku menawarkan opsi jalan tengah yang strategis.
Herry Asiku menyayangkan jika Buton, sebagai pemilik cadangan aspal alam terbesar di dunia, justru seolah “ditinggalkan” dalam proses hilirisasi. Namun, alih-alih menolak pembangunan di Karawang, ia mengusulkan skema pembangunan dua titik pabrik (dual-track) sebagai nilai tawar daerah.
“Tapi saya punya opsi, kenapa kita tidak minta dua pabrik? Satu di Karawang untuk melayani kebutuhan Jawa dan Sumatra, dan satu lagi dibangun di Buton untuk melayani kawasan Indonesia Timur,” ujar Herry Asiku.
Pengusaha senior yang telah berkecimpung di kontraktor pengaspalan jalan selama 30 tahun ini mengungkapkan, kendala utama aspal Buton selama ini bukanlah kualitas, melainkan ketersediaan stok (ready stock) dan distribusi.
Olehnya itu, ia menyarankan stok aspal Buton harus tersedia di ibu kota Provinsi dan Kabupaten/Kota di wilayah Sultra, karena ongkos proyek pengaspalan jalan sangat besar, di mana sekitar 70 persen dari nilai kontrak terserap hanya untuk pembelian material aspal.
Ia mengatakan, kondisi finansial kontraktor yang terbatas membuat mereka enggan mengambil risiko jika harus memesan aspal langsung ke Buton dengan proses produksi dan pengiriman yang memakan waktu lama.
“Kontraktor tidak mungkin menaruh uangnya di Buton, menunggu diproduksi, baru dikirim. Itu tidak efisien. Pemilik pabrik harus kuat secara modal untuk memproduksi dan menempatkan stok aspal di setiap ibu kota provinsi, kabupaten, dan kota. Tanpa stok ready, penggunaan aspal Buton akan sulit berkembang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Herry Asiku menekankan, membangun pabrik di Buton bukan hanya soal harga diri daerah, melainkan soal efisiensi logistik nasional. Ia menilai, mendatangkan aspal dari Karawang untuk proyek di Maluku atau Papua akan membuat biaya transportasi membengkak sangat mahal.
“Aspal Buton secara mutu adalah salah satu yang terbaik di dunia, lebih tahan panas dibanding aspal minyak. Kita harus pintar bernegosiasi. Kita terima pembangunan di Karawang karena infrastrukturnya sudah lengkap, tapi kita minta kompensasi satu pabrik di Buton agar ongkos angkut ke wilayah Timur bisa ditekan,” tambahnya.
Herry Asiku berharap aspirasi ini didengar oleh para pengambil kebijakan di tingkat pusat dan Presiden. Baginya, kehadiran pabrik aspal di tanah asalnya akan menjadi bukti nyata hilirisasi yang berkeadilan, sekaligus memastikan aspal Buton benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
TIM REDAKSI









